Jaringan Kelompok Perempuan Gunungkidul (JKPGk) terdiri dari 5 kelompok.Yang masing-masing kelompok mempunyai latar belakang dan karakteristik yang berbeda-beda.
- KTW Sedyo Maju (Dusun Duwetrejo, Desa Karangtengah, Kecamatan Wonosari)
Kelompok Tani Wanita ini beranggotakan 60 petani perempuan. Kegiatan yang pernah dilakukan pelatihan advokasi anggaran daerah (pro-poor budget), training gender budget, pelatihan pertanian organik, pelatihan pemeliharaan ternak, advokasi air bersih (belum selesai), pelatihan tentnag KDRT, Workshop kekerasan berbasis gender.Dari hasil kegiatan dan pertemuan selama ini, KTW sudah dikenal banyak kalangan baik NGO, pemerintah maupun swasta. Bahkan ada anggota yang sering menjadi narasumber dalam kegiatan yang dilaksanakan LSM lain(LGSP. AKSARA, dll.)
Capaian yang lain yaitu ada beberapa anggota yang mengikuti musrenbang desa, kecamatan dan Kabupaten. musyawarah untuk menentukan proses pembangunan daerah setiap tahun.Selain kegiatan rutin kelompok yaitu arisan, simpan pinjam dan pengelolaan ternak (gaduhan), kelompok juga melakukan identifikasi masalah yang sedang dihadapi warga dusun berkaitan dengan hak dasar warga. Permasalahan yang diidentifikasi kelompok dan sampai saat ini belum selesai antara lain: air bersih, persoalan pertanian (mahalnya pupuk dan perkembangan hama serta pengolahan hasil pertanian), mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan.
- Kelompok Perempuan Sumber Rejeki (Dusun Galih, Desa Plembutan, Kecamatan Playen)
Kelompok Perempuan beranggotakan 35 orang perempuan. Kegiatan yang pernah dilakukan oleh kelompok berupa pelatihan advokasi anggaran daerah (pro-poor budget), training gender budget, advokasi air bersih (telah mendapatkan droping air bersih), pelatihan tentang KDRT, Workshop kekerasan berbasis gender.Terkait dengan kegiatan yang pernah dilakuakan kelompok membuat beberapa anggota sering menjadi narasumber dalam kegiatan yang dilaksanakan LSM lain. Bahkan ada anggota kelompok yang pernah mengikuti proses perencanaan pembanguanan daerah stiap tahun, yagn sering dikenal dengan musrenbang, mereka pernah terlibat di Musrenbang kecamatan dan kabupaten
Kelompok Perempuan Sumber Rejeki mempunyai kepedualian terhadap permasalahan- permasalahan sosial yang muncul di daerahya, sehingga mereka melakukan identifikasi masalah untuk bersama-sama dicarikan solusinya. Permasalahan yang diidentifikasi kelompok dan sampai saat ini belum selesai antara lain: jalan dusun yang masih sulit (untuk mencapai dusun ini harus melewati jalan kecamatan lain), air bersih (droping tidak terus menerus dan hanya dipinggir jalan), pengelolaan hasil pertanian, akses pendidikan yang rendah dan akses kesehatan yang minim.Selain mencoba megurai permasalahan yang ada, kelompok juga mempunyai agenda rutin berupa: arisan, simpan pinjam dan pengelolaan ternak oleh kelompok (Gaduh) dan pengelolaan TOGA.
- Kelompok Perempuan Ngudi Makmur (Dusun Gerjo, Desa Grogol, Kecamatan Paliyan)
Deangan beranggotakan 25 orang perempuan, Kelompok Perempuan Ngudi Makmur melakukan pertemuan rutin seperti arisan, simpan pinjam. Selain agenda rutin kelompok, mereka juga pernah mengikuti kegiatan diantaranya pelatihan advokasi anggaran daerah (pro-poor budget), training gender budget, advokasi air bersih (telah mendapatkan droping air bersih), pelatihan tentang KDRT, Workshop kekerasan berbasis gender dan pelatihan untuk pengelolaan hasil pertanian, pelatihan untuk kader lansia.Dari beberapa kegiatan yang pernah dilakukan membuat Kelompok dikenal dikalangan pemerintah Desa, Kabupaten dan kelompok masyarakat yang lain. Bahkan ada salah dsatu anggota kelompok yang saat ini menjadi anggota BPD (Badan Perwakilan Desa), dan merupakan satu-satunya anggota BPD perempuan di desanya.
Kelompok perempuan Ngudi makmur tidak hanya melakukan arisan dan simpan pinjam, akan tetapi mereka juga melakukan advokasi kerusakan DAM – ndung janggrung dan ndung siloroh-- sungai pinggir kampungnya (melakukan participatiry audit). Mereka sangat peduli terhadap permasalahan yang mucul dan dialami oleh warag dusun, sehingga mereka menjadikan identifikasi masalah sbagai agenda kerja kelompok. mereka mencoba mengurai dan mencari sebab akibat dari permasalahan yang di hadapai warga sehingga memudahkan mereka untuk mencari jalan keluarnya. Salah satu contoh jalan keluar yang mereka tempuh adalah keerlibatan anggota kelompok dalam musrenbnag dusun, desa, kecamatan dan kabupaten. hal ini diharapakan permasalahan yang ada di dusun mereka bisa terselesaikan melalui proses perencanaan pembangunan.Permasalahan yang diidentifikasi kelompok dan sampai saat ini belum selesai antara lain: air bersih (droping tidak terus menerus dan hanya dipinggir jalan), pengelolaan hasil pertanian, pendidikan mahal .
- Kelompok Kader Posyandu DWI MANUNGGAL (Desa Giriwungu, Kecamatan Panggang)
Kelompok terdiri dari 25 orang kader yandu. Kelompok ini merupakan gabungan dari 2 dusun yaitu Dusun Klepu dan Dusun Pejaten. Kelompok Kader Yandu ini selian malakukan kegiatan rutin kader seperti timbangan balita dan lansia, simpan pinjam dan arisan, mereka juga ikut aktif peduli terhadap permasalahan yang muncul di desa nya. Mereka mencoba menggali permasalahan dan mencari solusi dari permasalahan tersebut sehingga desa mereka bisa lebih baik. Permasalahan yang diidentifikasi kelompok dan sampai saat ini belum selesai antara lain: air bersih (droping tidak terus menerus dan hanya dipinggir jalan), pengelolaan hasil pertanian, pendidikan mahal, pertanian (pupuk mahal, hama tanaman)
Selain kegitan-kegiatan tadi, mereka juga sering mendapat undangan dari pihak luar. Kegiatan yang pernah dilakukan pelatihan advokasi anggaran daerah (pro-poor budget), training gender budget, advokasi air bersih (telah mendapatkan droping air bersih), pelatihan tentang KDRT, pelatihan untuk kader lansia. Bahkan ada anggota kelompok yang menjadi guru/tutor di KEJAR PAKET A. Karena kepedulian mereka terhadap permasalahan desa, mereka pernah mengikuti proses perencanaan pembangunan di tingakat kabupaten agar supaya permasalahan mereka bisa tertampung di APBD.
- Serikat Petani Pembaharu (Desa Semoyo Kecamatan Patuk)














